
Ekspresi itulah yang muncul dari raut wajah pria berdarah Amerika. Menurutnya, Menara Kudus salah satu cagar budaya yang eksotik di Indonesia karena arsitektur yang cukup unik yang hingga kini masih terawat dengan baik.
”Menara Kudus sangat luar biasa, meski berusia cukup tua namun masih berdiri kokoh,” kata CEO LibForAll sebuah lembaga nirlaba bermarkas di Indonesia dan Amerika yang memiliki misi untuk melawan ekstremisme keagamaan dan menolak penggunaan terorisme.
Tujuan ia datang di Kudus sebenarnya tidak hanya singgah dan melihat secara lebih dekat keindahan dari cagar budaya berusia ratusan tahun tersebut, namun juga ingin melihat lebih dekat kehidupan masyarakat di sekitar menara.
”Utamanya masyarakat Muslim di Kudus yang ternyata cukup luar biasa, karena bisa menjaga kerukunan dan toleransi dengan umat lainnya. Hal ini jarang ditemui di negara manapun,” katanya yang juga salah satu pendiri Abdurrahman Wahid Foundation itu.
Taylor menuturkan, selama singgah di Kudus sempat mempelajari sedikit ajaran Sunan Kudus yang cukup terkenal, yakni menghormati umat Hindu yang saat itu bermukim di wilayah berdekatan dengan menara dan meminta masyarakat tidak menyembelih sapi. Sebab hewan tersebut dihormati oleh umat Hindu.
”Secara universal ajaran tersebut menggambarkan bahwa kita sebagai umat ciptaan Tuhan untuk senantiasa menghormati agama lain sehingga tercipta kehidupan yang damai,” tuturnya yang juga pendidik di Universitas Carolina Utara.
Dalam perjalanannya, ia juga mengakui memiliki misi sesuai dengan lembaga yang dipimpinnya yaitu ingin menyebarkan toleransi dan kebebasan berpikir dan beribadah. Bahkan ia mengutip pesan dari mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid yaitu umat Muslim harus bisa menyebarkan pemahaman Islam yang benar dan karenanya menolak ideologi ekstrem.
”Untuk memenuhi tugas ini memerlukan pengertian dan dukungan dari berbagai individu, organisasi, dan pemerintah,” paparnya yang sudah puluhan tahun di Indonesia dan bermukim di Magelang itu.
Oleh karena itu, ia mengaku bangga melihat Kabupaten Kudus memiliki komposisi masyarakat yang beragam namun tetap mengedepankan toleransi beragam.
”Bahkan saya selama berkunjung di Kompleks Menara Kudus mendapatkan sambutan hangat dari pengurus yayasan dan bahkan masyarakat yang juga berkunjung di tempat tersebut,” ungkapnya.
Sumber : Suara Merdeka
0 comments:
Posting Komentar